A. Apakah yang dimaksud dengan apersepsi?

Apersepsi berarti penghayatan tentang segala sesuatu yang menjadi dasar untuk menerima ide-ide baru.
Secara umum fungsi apersepsi dalam kegiatan pembelajaran adalah untuk membawa dunia
mereka ke dunia kita. Artinya, mengaitkan apa yang telah diketahui atau di alami dengan apa yang akan dipelajari.
Apersepsi ini sangat penting. Mengapa?
a. Kita mencoba menarik mereka ke dunia yang kita ciptakan
b. Kita mencoba menyatukan dua dunia yang berbeda
c. Pentingnya menciptakan atmosfir, karena mereka berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda.
d. Perluya membangun motivasi
B. Apakah yang dimaksud dengan media pembelajaran?
Segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapatmerangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan peserta didik sehingga secara sengaja proses pembelajaran terjadi, bertujuan, dan terkendali
C. Hasil Karya Siswa
Berikut ini puisi hasil karya siswa-siswi kelas XII IPA 6, SMAN 2 Madiun 2008/2009, setelah diberikan apersepsi berupa
informasi aktual tentang Ponari dukun cilik
tak Bermata
Menggenggam secercah harapan
tuk tiap jiwa yang meminta
menutup kembali duka
tuk tiap luka yang menganga
Kepingan – kepingan keluh
memecah diatas peluh
Namun justru dia yang terjatuh
Justru dia yang tak mampu merengkuh
terikat dan terbebat
memenggal masa diatas nama bahagia
tak mampukah kita menyadari
bahwa dia tetaplah indah
tuk tetap tertawa
(Yana R.D., IPA 6 )
Puisi dikembangkan dengan majas personifikasi dan repetisi
KATA PUISI SESEORANG
Kata orang, aku dapat menyembuhkan orang
Kata orang juga, aku ini dukun cilik
Kata orang lagi, aku punya batu sakti
Kalau kata tetangga, aku ini banyak dipuja
Kata tetangga pula, aku memberi berkah pada sesame
Sekali lagi kata tetangga, aku bisa cepat kaya
Beda lagi kata temanku, sekarang lagi musim gundu
Kata temanku yang lain, aku diajaknya main
Jika kata semua temanku, aku harus sekolah
Terus kata siapa lagi ya?
Orang berkata memang gampang
Dan kata tetangga berbeda beda
Kalau kata teman mengasikan
Lalu dengan kata hatiku?
Bagaimana juga kata Tuhan?
Kalau Tuhan marah sama aku,
Apa orang-orang mau membelaku?
Bagaimana juga kata presiden?
Kalau aku tidak sekolah,
Apa aku bisa jadi Menteri,
Kemudian,
Aku bingung kata siapa lagi?
Siapa lagi bingung kata aku?
Kata siapa aku lagi bingung?
(Resna Tazkiyatunnafs, IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas alusio dan repetisi
Saksi Untuk Mengerti
kami jadi mengerti saksi
kami harus mengerti
Ponari, kah….
Ini bukan kail penghasil rezeki
Sekadar mencari ceceran intuisi
Bergulingan, terjatuh lalu berdiri
Inipun bukan reposisi mimpi
Memanfaatkan kesempatan
Memutar memori goreskan imajinasi
Ponari, kah…
Itupun adalah keliru
Untuk itukah kami tersipu
Ceceran materi pengukir prestasi
Melewatkan pagi tanpa tetes air
Ya…
Ponari, kah…
Sekali lagi kami jadi saksi
Sekali lagi kami harus mengerti
(Wakhit Atok S., IPA 6)
Hanya Sebuah Asa
Sang waktu terus berjalan dan tak jua berkata
Kala detik apa dera diriku masih terbungkam dan membisu
Kisahku berawal dalam kemilau tanganku
Bukan karena aku pemilik misteri itu
Aku terlahir bukan sebagai malaikat Tuhan
Aku terlahir bukan sebagai tangan Tuhan
Tapi, aku terlahir atas kehendak Tuhan
Diriku hanya butir pasir diantara mereka
Aku tak peduli akan keajaibanku
Aku hanya ingin berjalan, berdiri tegak layaknya manusia biasa
Cakrawala ini bukanlah milikku bukanlah tanganku
Aku ingin seperti mereka dengan segala asa dunia
Aku hadir dan berdiri tegak hanya untuk menggapai asa
Dan aku tahu diriku hanyalah manusia kecil di dunia
Aku bukan penguasa cakrawala yang menurunkan keajaiban
Hanya buih-buih asalah yang ingin ku kejar
Hanya sebuah asa dan sebuah asa
Demi diriku dan asaku
Aku ingin berteriak dan berkata “Hanya sebuah Asa”
(Ifrina Nuritha, IPA 6)
Waktu yang Terbuang
Bocah kecil
bertubuh mungil
menopang peluh
tanpa mengeluh
yang harusnya bersuka
yang harusnya bercanda
Tidak hanya waktu
yang memburu
tapi juga pilu
yang membisu
Dia membukakan mata dunia
bahwa masih ada harapan ditangannya
Namun dia…
Kehilangan masa
melunturkan tawa
(Mega Prasada P IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas personifikasi
Pertunjukan ribuan manusia membentuk lautan
Orang tua tenggelam dalam himpitan badan
Nama seorang bocah menjadi raja lautan itu
Angan mereka memburu sang raja
Rintih perih derita lara
Ironi cerita diatas panggung dunia
Membantah logika para manusia
Berantai harapan demi kehidupan
Arti secuil batu untuk sejuta manusia
Berantai demi kehidupan
Arti secuil batu untuk sejuta manusia
Mengaku ber-Tuhan dan menjualnya
Berkalung iman dalam kekafiran
Ungkapan doa kepada batu raja
Nama seorang raja pemusnah derita
Gigitan paksa demi jiwa
(Gandi Widhi A., IPA 6)
DUKUN CILIK JOMBANG
Kecil tubuhnya
Sawo matang kulitnya
Ponari namanya
Angin berbisik menyerukan namanya
Membuat orang ingin singgah ke gubuk kecilnya
Berbondong berkantong harapan
Berharap kesembuhan darinya
Secelup batu dalam air
Itulah yang di tunggu-tunggu darinya
Ponari…
Aku tahu kau bukan Tuhan
Tapi di utus Tuhan
Menolong jiwa yang kesakitan
(Irmalia A.N., IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas personifikasi dan litotes
Ponari
Kecil, lemah, tak berdaya, biasa…
Tersambar petir, kau utuh…
Kau seperti malaikat…
Tapi kau tak punya sayap…
Kau seperti dewa…
Tapi kau anak biasa…
Kau anak dan diperanakkan…
Kau putih, bersih…
Yang berjas, yang bermobil, yang berpangkat…
Datang padamu…
Seperti kumbang mendatangi bunga…
Tapi kau bukan bunga…
Karena kau anak biasa…
(Ratih K., IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas simile
Keajaiban
Dia…
bagai pelita dalam hampa
bagai harapan di setiap doa
Bukan hanya dia
mereka mampu melega
mereka sanggup tertawa
Dia…
membuka kebahagiaan
menghapus kegalauan
bukan hanya dia
namun mereka yang mencoba menata
kembali hidupnya
Dialah…
Keajaiban…
(Kurnia M.P., IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas hiperbola
Sebuah karya yang tak bermakna
Malaikat kecil datang!
Kata banyak orang awam
Malaikat kecil dating!
Kata banyak orang yang tak tahu harus mengapa
Banyak orang bilang mereka hebat
dia tak tahu,
Hari ini saya duduk, menulis satu pena lakon hidupnya
Dia tak tahu,
Detik ini, di sana, disini
Orang terinspirasi
Orang termotivasi
Orang terobsesi
Menjalani drama lakon lika-liku hidupnya
Berharap mereka juga berguna
Meringankan dia yang tak berdaya
Tapi semua hanya harapan
Sebuah keinginan yang bertentangan
Dengan akal, budaya, dan kepercayaan
Orang-orang yang berfikir
Orang-orang yang mampu menempatkan
Akal dan agamanya
Seperti saya,
Dan saya tak percaya.
(Netty W.N., IPA 6)
Hilangnya Masa
Februari…..
Anak kecil penuh keajaiban
membawa kepingan
untuk tiap pengharapan
Mereka datang
Mereka diam
Mereka hengkang
tanpa sadar beban anak itu
tanpa peduli luka anak itu
Dia tetaplah kecil
Tetaplah tengil
yang indah dengan tawanya
yang indah dengan critanya
Bukan dia yang duduk
dan berharap waktu berlalu
(Wiji Lestari, IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas alusio dan repetisi
Si Mungil Ponari
Digenggamnya
Di antara jari-jari mungilnya
Sebuah batu bercerita
Yang memancarkan kilau biru dan hijau
Yang menarik beribu-ribu jiwa
Yang memberikan harapan-harapan hidup
Yang terbasuh air bening
Membuatnya menjadi obat dari segala sakit
Tapi semua bertanya, bagaimana bisa?
Ponari pun hanya tersenyum
(Yustin Irayanti, IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas
personifikasi, repetisi, dan hiperbola
Pemuda Kecil
Pemuda Kecil…
Berhati putih bersih bersinar penuh keimanan
Tak ada sedikit pun bercak hitam terlintas di dalamnya
Pemuda Kecil…
Tersenyum manis bermanja kasih sayang
Menanamkan canda tawa di tiap lembar kehidupanya
Pemuda Kecil…
Keajaiban Tuhan menimpa dirinya
Orang-orang mengagungkannya kini
Pemuda Kecil…
Kehilangan keceriaannya
Tak ada lagi manja-manja abah emaknya
Pemuda Kecil…
Tak tertawa lagi
Hanya lelah dan jenuh dirasanya
Pemuda Kecil… menangis
Pemuda Kecil…berharap
Ponari ingin kembali menjadi anak biasa
(Shandy Sozharicha , IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas anafora
Awalnya, ia bukan siapa-siapa
Bukan seorang raja
Bukan pula titisan sang dewa
Namun, kini puluhan juta nyawa menghampirinya
Hanya sekedar meminta sedikit berkah
Untuk melanjutkan hidup yang indah
Ia tak pernah meminta
Orang-orang itu meminta
Ia hanya mencoba
Menjilma bak malaikat yang mulia
(Rurintana, IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas hiperbola
Secuil kisah dari negeri Timur
Anak manusia memungut batu yang dilempar segelintir petir
Batu itu gaib
Batu itu ajaib
ia permata membutakan manusia
serupa sebutir gula di balik kerumunan semut
berduyun-duyun
orang awam yang mengais secerca asa
Apakah ia batu ajaib yang memancar secara gaib?
tanpa seorang pun tahu kapan ia memamerkan kemolekannya
Ataukah hanya batu kali yang disulap bak sembahan?
tabu memang…
Tapi, mengapa barisan itu bertambah panjang?
(Sabrina D.A., IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas personifikasi,
Paralelisme, dan simile
Ba Pon
Batu…
Bulat…
Mati…
Aku
Kecil
Jombang
Tempatku
Menambang batu
Kali
Batu…
Bulat…
Hidup…
Tinggal celup
Tinggal minum
Tinggal uang
Hidupku
Hidup batu
Hidupmu
Juga
Batuku ….Batu tuah
(Fandri L S., IPA 6)
Kebahagiaan yang semu
Pebruari dalam bencana
Badai angin menerpanya
Sebuah petir menyambarnya
Bongkahan batu besar menimpanya
Wajah berparas lugu kian tersiksa
Kemurkaan merenggut hati kecilnya
Kini dia hanya bisa menangis dalam penyesalan
Penderitaan dalam sebuah kebahagiaan
(Charis Dwijadnarko, IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas alusio dan hiperbola
Seseorang yang dicari
Namamu kian melambung
Sosokmu kian dicari
Seiring berputarnya waktu
Seiring berjalannya hari
Semua orang mencarimu
Semua orang mengincarmu
Semua orang membutuhkanmu
Hanya untuk sebuah kesembuhan
Lenyapmu dihiraukan
Hilangmu diresahkan
Apakah sebegitu pentingnya?
Mengapa semua orang begitu menginginkannya?
Apa mereka lupa dengan sang pencipta?
Yang telah menciptakan dengan sempurna
Sehingga mereka lupa bersyukur untuk semua
Tentang Fikiranku dan Laku Mereka
Ia telah dapatkan sesuatu yang beharga
Untuk mereka, untuk orng-orang tak berdaya
Dan orang-orang itu datang kepadanya
Meminta satu kesembuhan seperti meminta
pada Tuhannya sendiri
Dan aku muak pada mereka,
pada kepasrahan itu
Langkah fikiranku berhenti
Tak ada pilihan dalam sebuah persimpangan
Ini fikiranku yang salah
atau laku mereka yang salah?
Yang berharga itu Cuma batu
Batu yang bisu, batu yang buta
Batu yang tak pernah punya nafas
seperti kita
Itukah Tuhan mereka?
Kusembunyikan fikiranku, segera
Sebelum ia benar-benar menganggap
batu itu Tuhan
Seperti fikiran orang-orang itu
(Dhesi A., IPA 6)
Titisan Raja Petir
Siapa mengira?
Merekapun tak kuasa mengelak
Seorang biasa yang tak tau arah
Mana selatan mana pula utara
Menjelma layaknya dewa
Sebongkah batu dalam genggaman
Menyertai kemana arah dan tujuan
Ajaib??
Mustahil??
Mukjizat??
Sungguh rancu patwa akan hal itu
Tak ada yang mampu memvonis
Syirikkah??
Atau utusan yang kuasa??
Tak seorang pula sanggup menerka
Inilah bukti…
Betapa Agungnya Yang Maha Kuasa
(Alvian Nurahyo IPA 6)
Batu mu dosa kita
Sekejam itukah bantuanmu
Sedangkal itukah pikiran kita
Biarlah orang sebut dewa
Kepadamu…
Atau malaikat…
Apa kamu tidak takut?
Pada Robb-mu
Jangan kita memuja batu
Dan janganlah kamu memujakan batu kepada kita
Buanglah pisau laknat itu
Pisau yang berbentuk batu
Batu yang dapat menusuk iman kita
Katakan dan berkatalah
Pada pembimbingmu
Batu itu diam
Dan tidak dapat berkehendak
Batumu membutakan
Batumu membisukan
Batumu membunuh
Batumu dosa kita
Bertaubatlah
Ajak sanak saudaramu
(Yan Pratama, IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas personifikasi
Dukun Cilik dari kota santri
Siapa sangka
Petir itu bukanlah bencana
Siapa sangka
Sambaran petir membuatnya hebat
Sebuah batu terjatuh
Mengenai kepala si kecil Ponari
Tak disangka…
Batu itu berlari dan memberi
Pertanda
Batu itu menyelamatkan jiwa
Jiwa yang sedang merintih kesakitan
Jiwa yang sedang berharap kesembuhan
Dari batu yang dimiliki
Sikecil Ponari…
Berbindong-bondonglah mereka
Yang ingin membuktikan kehebatan
Si kecil Ponari beserta batu ajaibnya…
Itulah Ponari…
Dukun cilik dari kota santri
(Reny Lidhia, IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas personifikasi
SPIRITUALIS
Layaknya sebuah durian yang tercipta di alam ini
Tak elok dan membuat bergirik bila dilihat dari penampilannya
Kaku, kuat, berduri tajam setajam ujung anak panah
Tapi tak ayal, yang Maha Kuasa selalu menorehkan setetes
Madu di setiap insannya
Terdapat harta di dalam tubuh berduri itu
Meski harus dengan perjuangan sekeras baja untuk menggenggam
sang harta
Yang punya alam telah meniupkan roh dan memberikan
Tempat si kecil “Ponari” di dunia ini
Malang , si kecil terlahir di alam kemiskinan
Hidup penuh kekurangan, tapi tidak dengan ketabahan
Dan syukur pada yang menciptakan-Nya
Perjuangan hidup, asa pantang mundur berkabar
Di terik panas menyengat ubun-ubun
Hingga sang surya tersenyum dan terharu melihatnya
Di dinginnya malam yang sunyi senyap,
Hingga sang rembulan ikut gentar menerangi langkahnya
Dan akhirnya, Sang Maha Kuasa ikut terharu menyaksikannya
Sinar indah datang untuk si kecil
Membelalakkan semua jiwa di sepanjang negara zamrud katulistiwa
Hingga mereka berbondong-bondong datang menghampirinya
Setiap jiwa yang menhampirinya memberikan sesuap nasi
Kini beratus-ratus bahkan ribuan jiwa datang
Beribu hingga berjuta suap nasi yang ia dapat
Bagai keajaiban, hidupnya sekarang berada di alam berkecukupan
Jiwa yang berdatangan juga seperti diberkahi keajaiban
Semua berkat si kecil “PONARI”
Berkat Sang Kuasa
Si kecil itu memang Sang Spiritulis
(Rizki Sinta, IPA 6)
Negara kita Indonesia
Masyarakatnya beragam budaya
Kepercayaan berbeda-beda
Bhineka Tunggal Ika
Seorang bocah pribumi
Tiba-tiba sakti
Karena jatuhnya sebuah benda
Batu ponari kata mereka
Kuatnya akar budaya
Mencengkeram akal sehat manusia
Ribuan manusia berdatangan
bak semut menyerbu gula
Berharap akan dating
Suatu mukjizat
Untuk mendapatkan segelas air
Hasil celupan batu ponari
Beberapa menjadi tidak bernyawa
Bukti Manusia telah gelap mata
Bahkan beberapa diantaranya
Beberapa yang tidak sabar
Mengambil bagian-bagian rumah Ponari
Dan sebagian yang lain
Meminum air selekan rumah ponari
Negara kita Indonesia
Masyarakatnya beragam budaya
Kepercayaan berbeda-beda
Bhineka Tunggal Ika
(M. Rizki Satria, IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas hiperbola, litotes, personifikasi
PONARI SI DUKUN CILIK
Ponari…
Dialah si dukun cilik
Orang-orang menyemut menjumpainya.
Demi untuk memperoleh kesembuhan
Hanya dengan bermodalkan sebuah batu dari petir
Mungkinkah itu syirik?
Mungkinkah itu mu’jizat?
Hanya kepada-Mulah tempat memperoleh kesembuhan
(Elvie D.F., IPA 6)
………..
bagai malaikat
mimik tanpa dosa itu,
menyeruak dari kegelapan
tanpa sayap
tanpa jubah
menjejakkan kaki kecilnya
di antara puluhan orang
(Ratna, IPA 6)
B . A .T .U
Berkerumun…
Manusia…
Ribuan…
Entahlah dari mana itu
Apapun maksud tujuannya
Angin berkabar
Itu sebab dari lambaian seonggok
Batu…
Obat bagi sakit yang lama tak usai
Seiring lahirmu
Beriring pula arakan rupiah kepadamu
Hanyalah batu…
Penenang hati mahkluk yang berotak
Hanyalah batu…
Obat,nikmat bagi banyak jiwa
Hanyalah batu…
Tangis kematian…ataupun haru bahagia
Ada dikerumunan…
Hanyalah batu…
Seorang anak…
Ponari…
(Ridho Dwi Santoso,IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas personifikasi
Petuah Petaka Ponari
Bocah lugu tiba-tiba merajai para manusia murtad
Bukan mau bocah itu
Merekalah yang membuatnya tertekan di lorong kebohongan
Diam dan memandangi satu persatu wajah mereka
Ponari hanya bisa menurut
Tak adakah logika di keimanan
Yang mereka tahu adalah kekuatan nama Ponari
Doa dan Dokter telah hilang dimakan batu bertuah
Padahal tak ada anugrah atau mukjizat
Mereka masih membanjiri bilik bambunya
Kemarin, hari ini, besok
tak pernah surut bahkan terus meluap
Sampai kapan kebodohan ini bertahan
Sampai Tuhan murka dan mengutuk mereka
Atau batu bertuah itu menjadi petaka bagi mereka
(Ajeng Herpianti Utari, IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas alegori
Ponari
Kecil mungil itulah dirimu
Canda tawa selalu menemanimu
Celupan air dari tangan dan batu ajaibmu
Dibutuhkan orang di sekitarmu
Mereka dating silih berganti
Berdesak-desakan diantara ribuan kerumunan orang
Seperti semut yang berebut makanan
Itulah gambaran orang-orang yang mencari kesembuhan
Harap dan asa mereka
Semua bertumpu pada batu ajaibmu
Memang kesembuhan ada di tangan-Nya
Tapi apa salahnya mencoba batu ajaibmu
Jika kita mau berusaha dan berdoa
Niscaya kesembuhan adalah jawaban-Nya.
(Silvia Rohman, IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas simile
Kuatnya tenaga,
Tak sekuat kepalamu
Sampai orang mengaguminya
Bahwa dia punya kesaktian mandraguna
Itu batu…itu batu…tu…batu
Itulah yang membuatnya dia disegani
Aku menganggapnya orang ajaib
ajaib yang bisa menyembuhkan
mamakku berkata dukun cilik
dukun yang bisa menghilangkan kekawatiran
Jombanglah tempat bernaungnya
Tempat bermain
Tempat kejadian terjadi
Tempat segala orang mendatangiku
(Bagus D., IPA 6)
Batu Ajaib Ponari
Ditengah kerumunanberibu-ribu manusia
Si kecil Ponari…….
Dengan batunya yang berwarna
Dengan batunya yang berbentuk
Dia mengobati segala penyakit
Dia membantu pasiennya
Hanya dengan…..
Dicelupkan batunya di air bening
Si kecil itu bagaikan Tuhan
Tapi….
Dia ingin mengakhiri itu
Dia ingin menjadi anak yang sewajarnya
Karena itu hanya sebuah kebetulan semata
(Siti Munawaroh N.A,IPA 6)
Puisi dikembangkan dengan majas repetisi
Ponari
Ponari….
Bujang kecil berkulit hitam
Berparas lugu namun periang
Dicengkeramnya sebuah batu merah
Penduduk berbondong bondong datang kerumahnya
Seperti semut yang mencari makan
Dia pun menghampiri mereka dengan
menggenggam sebuah batu merah
Tangannya terasa ingin berteriak
karena lemas mengobati mereka
(Galih A., IPA 6)
Seorang bocah kecil nan mungil
Duduk diantara lautan manusia
Menunggu seseorang
Datang menghampiri dirinya
Dengan sebongkah batu dan setetes air
Sikecil menyembuhkan orangnya
Dahulu duduk di antara kemiskinan
Sekarang duduk di tengah kemewahan
Dengan berbagai alat elektronik canggih
masa kini
Semua orang rela menunggunya
pagi, siang, malam, silih berganti
tak peduli badan datang
tak peduli sejauh mana si kecil berada
dan berbagai penjuru utara, timur, selatan, barat
mereka rela menunggu walau ada di tengah meraka
kehilangan nyawa
Apakah ini mukjizat Tuhan atau…
(M. Irawan, IPA 6)
Batu
Jawa Timur….
Turunlah 1 dewa kecil
Dipuja-puja ribuan orang bagai lautan
Tua maupun muda
Cuma batu….
Batu yang membuat mereka lupa akan kebesaran-Nya
Orang-orang rela tubuhnya hancur dan remuk
Bahkan kematian ada di depan mata
Ajal siap menjemput
Tapi mereka buta
Buta…
(Pamula, IPA 6)
Comments
selamat kapan saja, Pak tampilin puisi anak-anak IPA 6 aja ya…. hehehe
Insyaallah. Mudah-mudahan anak-anak sukses semua. Amin.
Maksudku…..dengan kumpulan puisi tsb bisa untuk ikatan tali silaturahim.
Pak, minta izin ngopi link ya?????
Oke silakan moga bermanfaat
Dimana bisa dapat fotonya Pak Mashudi? Mau saya salah gunakan.
Ga jadi Pak. Dah ketemu. Terima kasih atas perhatian Bapak selama ini.
ponari
yang terpilih
ku yakin hatimu bersih
Tuhan pasti telah memilih
buat pejamkan mata-mata yang sok bersih
hidupmu perih
hingga Tuhan memilih
Tuhan pasti tak salah pilih
belalakan seragam putih
Tuhan pasti tak salah pilih
(salam)
====================
Waaaah …. Rupanya tertarik!
Tunggu kisah yang lebih seru,
Ponari duel melawan dewi persik
Terimakasih atas pengabadian puisinya anak2 IPA6,Pak…..
OKE dhesi
Kangen pak mashudii. . .
N0nt0n pilem pak. . .
Hihii
===========
YA…. Sekarang g musim nonton, yang ada musim hujan!