04
Apr
09

Nilai Moral Dibalik Simbol dalam Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Karya T. Ismail


A. Nilai Moral

Pada dasarnya setiap puisi selalu berorientasi pada hal- hal yang bersifat membangun melalui pesan moral. Karenanya dalam puisi diyakini mengandung nilai- nilai moralitas yang dapat dijadikan bahan perenungan sekaligus menjadi kaidah pendamping dalam menjalankan kegiatan kehidupan. Tiap karya fiksi masing- masing mengandung dan menawarkan pesan moral, tentunya banyak sekali jenis dan wujud ajaran moral yang dipesankan (Burhan Nurgiyantoro, 1995: 324).

Selanjutnya dalam Buku Praktis Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2003: 181) dijelaskan bahwa, ”Ciri sastra yang baik, setidaknya ada tiga macam norma atau nilai yang menjadi cirinya, yaitu norma estetika, sastra, dan moral. Karya sastra disebut memiliki nilai moral apabila menyajikan, mendukung, dan menghargai nilai kehidupan yang berlaku.” Moral dalam puisi biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai- nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikannya kapada pembaca. Moral dalam puisi dapat dipandang sebagai amanat. Kemudian dipertegas oleh Herman J. Waluyo (1991) yang mengatakan bahwa, ”Tujuan/ amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat tersirat dibalik kata- kata yang tersusun, juga dibalik tema yang terungkapkan.”

Dibalik kegelisahan kolektif yang menjadi topik MAJOI karya Taufiq Ismail, menyimbolkan banyak pengalaman hidup yang sangat berharga untuk membangun moral bangsa yang lebih baik. Hampir semua puisi Taufiq Ismail hakikatnya menekankan tentang pentingnya aspek moralitas.” Kemudian menurut Kuntowijoyo, ”Puisi- puisi Taufiq Ismail adalah puisi hati nurani.” Jadi dapat diyakini, dalam Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, karya Taufiq Ismail kaya akan nilai- nilai moralitas yang sangat menarik untuk direnungkan.

B. Simbol

Penggunaan istilah simbol menyaran pada suatu perbandingan yang bisa berupa banyak hal dengan tujuan estetis, mampu mengkomunikasikan makna, pesan, dan mampu mengungkap gagasan. Keberadaan simbol dalam puisi atau karya sastra pada umumnya akan memberikan sumbangan kekuatan makna. Menurut Lakoff & Johnson dalam Nurgiyantoro (1995), ”Fungsi pertama simbol (metafor) adalah menyampaikan pengertian, pemahaman. Ekspresi yang berupa ungkapan- ungkapan tertentu sering lebih tepat disampaikan dalam bentuk metafor daripada secara literal. Metafor erat berkaitan dengan pengalaman kehidupan manusia baik bersifat fisik maupun budaya.” Kode simbolik lebih mengarah pada kode bahasa sastra yang mengungkapkan suatu hal dengan hal lain (Herman J. Waluyo, 1991: 106).

Wilayah penggarapan puisi Taufiq Ismail luas, mencakup demikian banyak aspek kehidupan. Sebagai karya kreatif tentu saja dalam MAJOI, karya Taufiq Ismail kaya akan bentuk- bentuk ungkapan (simbol) yang dapat mempertajam kekuatan makna. Puisi- puisi tersebut merupakan hasil rekaman dan renungan Taufiq Ismail tentang berbagai permasalahan kehidupan. Antara lain melalui simbol- simbol dalam puisi tersebut Taufiq Ismail menyampaikan sesuatu (pesan) kepada pembaca dengan tujuan agar masyarakat mampu memperbaiki kondisi bangsa.

C. Wujud Nilai Moral

Nilai moral itu sendiri dapat mencakup masalah, yang boleh dikatakan bersifat tak terbatas. Ia dapat mencakup seluruh persoalan hidup dan kehidupan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia.

1.Nilai Moralitas Demokrasi

Dalam larik- larik puisi Kotak Suara, misalnya: (i) ”Disebuah perhitungan berlangsung keajaiban” menyimbolkan pentingnya penghitungan suara yang bermoral, yakni meninggalkan kebiasaan curang dalam membangun demokrasi yang sehat di negeri tercinta ini. (ii) ”Disebuah keajaiban semua mata ditutupkan” penyair ingin menempatkan pentingnya moral dalam penghitungan suara dalam pesta demokrasi. Moralitas yang dibangun dibalik simbol ”mata ditutupkan” adalah pentingnya berbuat jujur, transparan, menghargai hati nurani rakyat, untuk membangun bangsa ini yang berkeadilan dan berkemakmuran. (iii) ”Inilah kisah tentang sebuah pohon misteri” pohon misteri adalah simbol dari salah satu nama partai yang digambarkan dalam ungkapan- ungkapan seperti:

”Diakar ada angka sejuta, naik kebatang jadi setengah juta…………..” Nilai moralitas yang dibangun adalah pentingnya meninggalkan budaya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, untuk memperoleh kemenangan diri atau kelompok. (iv) ”Angka- angka sikut menyikut, pukul memukul”, ”Angka-angka tampar menampar, gebuk- menggebuk” Ini merupakan simbol- simbol awal terjadinya mala petaka, yang tidak kita harapkan. Nilai moralitas demokrasi harus di kedepankan, supaya bangsa ini, negeri ini, tidak terancam dari kehancuran.

Taufiq Ismail juga ingin membangun demokrasi di Indonesia yang bermoral melalui puisi Demokrasi (h. 67) misalnya, tampak pada (i) pah pah kok papah orasi ngotot begitu amat sih …., ini merupakan pesan moralitas demokrasi, yakni pentingnya seorang pemimpin untuk tidak memaksakan kehendak dalam membangun demokrasi yang bermoral di negeri ini. (ii) …..tiga puluah sembilan indak menjalankan oto….., merupakan simbol matinya demokrasi, menyiratkan pesan akan pentingnya membangun moralitas demokrasi yang dinamis, mengutamakan kepentingan rakyat banyak, dan tidak memaksakan kehendak. (iii) pah pah ambil ujian SIM lagi dong……., SIM merupakan simbol dukungan rakyat yang legal. Moralitas yang dibangun adalah pentingnya seorang pemimpin untuk belajar dari pengalaman masa lalu, instropeksi diri dari kesalahan- kesalahan yang pernah dilakukan, dan mendapatkan dukungan rakyat yang sah secara demokrasi. (iv) pah pah ujian SIM demokrasi papah mau ngancam lagi? Kata ”ngancam” ditulis dengan dibalik, merupakan simbol larangan untuk mengancam. Moralitas yang dibangun adalah tidak dibenarkan di dalam negara demokrasi tindakan memaksa lebih- lebih mengancam.

2.Nilai Moral Cinta Tanah Air

Nilai moral dalam puisi, karya sastra pada umumnya dapat berupa pesan yang berkaitan dengan hubungan antar sesama, hubungan sosial. Masalah- masalah yang berupa hubungan antar manusia itu dapat berwujud: kesetiaan, cinta kasih (keluarga, sesama, maupun tanah air), dan lain- lain yang melibatkan interaksi antar manusia (Burhan Nurgiyantoro, 1995: 326).

Pesan moral yang merujuk pada cinta tanah air, misalnya dalam larik- larik puisi Berbeda Pendapat (h. 18)

…………………………….

Tapi bila berjumpa muka

Wajah cerah bagai abang dan adik saja

……………………………..

Burhanudin Harahap PM-nya, jauh dari selingkuh

Cuma mau memenangkan partainya

………………………………

Tegur sapa adalah pakaian bersih bersama

Menyimbolkan pentingnya menjaga keutuhan bangsa. Perbedaan pendapat, berlain pandangan seorang pemimpin harus diyakini sebagai sesuatu yang sah dalam demokrasi. Kalau tidak, maka akan berujung pada kehancuran tanah air ini. Cinta tanah air merupakan bagian dari kesetiaan dan cinta kasih yang melibatkan interaksi antar manusia. Sebagai perwujudan cinta tanah air, maka moralitas yang dibangun adalah pentingnya mengedepankan keselamatan bangsa dan tanah air secara luas daripada kepentingan indifidu atau golongan.

3.Nilai Moralitas Keagamaan dan Religius

Menurut Mangun Wijaya dalam Nurgiyantoro (1995),”Kehadiran unsur keagamaan dan religius dalam sastra adalah suatu keberadaan sastra itu sendiri. Bahkan, sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius. Pada awal mula segala sastra adalah religius.”

Dalam Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, karya Taufiq Ismail diawali dengan puisi 12 Mei 1998 (h. 2). Ungkapan- ungkapan seperti (i) ”Empat syuhada”, yang berarti saksi kebenaran (dalam Islam), merupakan simbol pahlawan penegak kebenaran. Moralitas keagamaan dan religius yang harus dibangun adalah pentingnya berjuang menegakkan kebenaran, ikhlas, hanya semata- mata karena Allah. (ii) ”peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama” menyimbolkan bahwa hidup dan mati adalah milik Allah. Peluru logam sebenarnya hanya sebuah perantara, dan bukan penentu kematian. Moralitas agama dan religius yang dibangun adalah pentingnya keyakinan bahwa hidup dan mati adalah keputusan Allah, sehingga jangan takut berjuang untuk sesuatu yang benar, karena Allah senantiasa akan melindungi. (iii) ”….. kita perlukan peta Tuhan” menyimbolkan pentingnya mohon petunjuk kepada Tuhan, karena kebenaran menurut manusia belum tentu berarti kebenaran menurut Tuhan.

Selanjutnya dalam MAJOI (bagian pertama) diakhiri dengan Doa Orang Kubangan (h. 82). Nilai moralitas agama dan religius dibalik simbol ”Doa Orang Kubangan”, pentingnya bertaubat dengan bersungguh- sungguh taubat dari semua kesalahan yang pernah dilakukan. Konsekuensi dari taubat itu sendiri adalah diawali dari keyakinan bahwa Tuhan senantiasa mengetahui semua kesalahan yang kita lakukan, kemudian untuk kedepan harus berbuat lebih baik, utamanya demi masa depan bangsa dibawah lindungan Tuhan .

Selanjutnya pada bagian kedua kumpulan puisi MAJOI, yaitu Kembalikan Indonesia Padaku (KIP), diawali dengan puisi doa (h. 84). Doa menyimbolkan pentingnya membangun moral agama dan religius bagi bangsa Indonesia. Moralitas agama dan religius yang dibangun adalah pentingnya mengakui segala dosa, semacam larik ” Telah nista kami dalam dosa bersama”, kemudian meninggalkan kebiasan- kebiasaan munafik, ”Dalam pikiran yang ganda”.

4.Nilai Moralitas Sosial

Banyak karya satra yang memperjuangkan nasib rakyat kecil yang menderita, nasib rakyat kecil yang memang perlu dibela, rakyat kecil yang seperti dipermainkan oleh tangan- tangan kekuasaan, kekuasaan yang kini lebih berupa kekuatan ekonomi (Burhan Nurgiyanto, 1995: 335).

SAJAK TANGGA

Empat puluh sembilan tangga kemiskinan

Hari panas

Lima puluh sembilan tangga kemiskinan

Hari sengangar

Enam puluh sembilan tangga kemiskinan

Hari terbakar

………………………..

Dibalik puisi sajak tangga (h.92-93), Taufik Ismail setidaknya telah merasa terlibat dengan nasib rakyat yang hidup dalam kemiskinan. Kemiskinan sebenarnya bukan permasalahan milik orang miskin itu sendiri. Tetapi sebagai bangsa yang bermoral, kemiskinan itu pantas menjadi perenungan bersama.

Nilai moralitas sosial juga diungkap dibalik puisi Seratus Juta (h. 5-6), yang menyiratkan ketidakberdayaan umat manusia yang seratus juta, berarti menyimbolkan pesan perlunya berbuat sesuatu untuk kemanusiaan. Realita permasalahan bangsa yang kompleks dan tak pernah surut seperti; kemiskinan, pengangguran, kesengsaraan, putus sekolah, penyakit, hutang, dan lain sebagainya perlu menjadi perhatian bersama.

5.Nilai Moralitas Pendidikan

Puisi Kembalikan Merah Putih Pada Si Toni (h. 102), merah adalah simbol keberanian dan putih adalah simbol kesucian. Puisi ini masuk pada wilayah Kembalikan Indonesia Padaku. Ini menyiratkan makna kembalikan Indonesia pada cita- cita luhur bangsa (suci), tidak takut berbuat sesuatu yang memang benar. Penyatuan tingkah laku dan kesucian adalah wujud dari pendidikan. Nilai moralitas pendidikan yang dibangun tampak pada larik- larik seperti,

Upacara berjalan dengan irama yang terpelihara

ketika hari agak panas sudah terasa

ketika matahari pun bertingkah gembira

ketika dikirimkannya cahaya yang merata

ketika semua tertib di kelurahan desa

………………………..

”Irama yang terpelihara”, merupakan simbol kepatuhan pada aturan atau tata tertib yang harus dicamkan dalam pendidikan. ”Matahari”, menyiratkan makna pentingnya membuka cakrawala pandang, wawasan yang luas, dalam kancah pendidikan. ”Bertingkah gembira”, merupakan simbol ketulusan dan kejujuran dalam mendidik anak bangsa. ”Cahaya yang merata”, merupakan simbol berkeadialan. Jadi secara umum, moralitas pendidikan yang dibangun adalah pentingnya mengedepankan dan menanamkan kedisiplinan, berwawasan kedepan, kejujuran, dan berkeadilan dalam membangun fitrah pendidikan untuk masa depan generasi penerus bangsa

Demikianlah, ulasan ini memang tidak mengangkat semua nilai moral secara menyeluruh dari larik- larik, dan bait- bait dalam kumpulan MAJOI. Tetapi setidaknya penulis berharap, ulasan ini dapat melengkapi ulasan- ulasan sebelumnya yang banyak mengungkap realita.

Akhirnya dibalik Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail, banyak kita dapatkan pengalaman hidup yang sangat berharga untuk membangun bangsa ini. Realita buruk dalam MAJOI misalnya, bukan sebatas realita yang harus kita tahu, tetapi muatan titipan moral dibalik realita itulah yang harus menjadi perenungan bersama untuk membangun bangsa ini lebih baik.

Tiga wilayah pembagian puisi Taufiq Ismail (MAJOI, KIP, dan SPSG) yang kemudian disatukan dalam seratus puisi Taufiq Ismail dan diberi judul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia sarat dengan nilai- nilai moralitas. Dengan merasa malu berarti mau meninggalkan yang memalukan. Malu juga merupakan tanda iman seseorang. ”Malu itu sebagian dari iman, dan iman itu berada dalam surga ………………” (HR. Ahmad Tirmidzi).

Nilai moral mencakup seluruh persoalan hidup dan kehidupan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia, mencakup semua persoalan yang boleh dikatakan tak terbatas. Wilayah penciptaan puisi Taufiq Ismail ini mencakup aspek kehidupan yang sangat luas. Mengapa? Karena Taufiq Ismail memanfaatkan ungkapan- ungkapan sebagai bahasa simbol untuk mempertajam kekuatan makna.

About these ads

2 Responses to “Nilai Moral Dibalik Simbol dalam Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Karya T. Ismail”


  1. 1 ajeng
    May 11, 2010 at 12:40 pm

    makasih ya infonya membantu saya mengerjakan tugas

  2. 2 Syf
    October 17, 2012 at 2:42 pm

    Makna dari puisi ini apa?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


KALENDER

April 2009
M T W T F S S
« Mar   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Categories

Pengunjung Budiman

  • 548,801 hits

BULE BELAJAR BHS. INDONESIA


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: