04
Mar
09

Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) Tk. Nasional Prog. Reguler 2007, Mashudi Smada Madiun.



MASHUDI

Bukan!”
Bukan sebuah kesombongan maksudku.
Insyaallah cerpen ini bisa menjadi bahan perbandingan, khususnya bagi para guru bahasa Indonesia di tanah air yang ingin bergabung dengan LMCP….

PULUNG
Aku menyesal telah menjadi gadis tak jelas asal. Di desaku, Bungkal, aku dinilai pembawa sial. Pembangunan jalan tembus desaku, misalnya, yang makan korban dua pekerja aspal, tergilas gilis, karenaku katanya. Aku seorang jathil desa yang menggantungkan hidup dari tanggapan seni reog. Ayahku (yang entah ayahku atau bukan), mati gantung diri seiring dengan kemonceranku. Di Bungkal, aku telah dikenal masyarakat yang tak jelas asal.
Aroma sesal terus membalutku hingga kini menginjak usia remaja. Di sekolah, tak jarang disudutkan sebagai tempat bersalah. “Duh Gusti, Dzat kang Sinembah, mengapa takdir seperti titik nadir?” rajutku pada gelap. Malam hanya terbitkan kelam dalam jiwa tiap malam. Saat seperti itu, Simbok-lah yang pertama alirkan air mata hidup yang sesekali redup.
“nDuk, sejarah moncer orang ibarat sri gunung.” Begitulah rajuk simbok dulu sebelum ke Saudi. “Dari jauh, nampak indah kebiruan tetapi jika didekati banyak jurang, binatang buas, dan nambang. Kamu harus hati-hati. Laku hati akan hindarkan kamu mati profesi. Indung jathil itu warisan nenekmu, nDuk.”
***
Di Bungkal aku menyesal terlahir dari rahim ibu yang tak jelas asal. Di usiaku yang merangkak 15, desaku heboh karena ayah mati gantung diri. Keyakinan bunuh diri, kata Warok Aji terjadi oleh pulung gantung. Penduduk  Bungkal bilang, kalau pulung gantung itu isyarat langit tentang akan terjadinya bunuh diri dengan cara menggantung. Ayahlah kemudian yang menggantung. Hidupku terkatung-katung. Hidupku tinggal kuukir  dengan adikku.
Keyakinan masyarakat mengatakan, pulung gantung sebagai sinar merah kebiruan di waktu malam yang melintas di langit dengan cepat. Jika suatu saat benda itu muncul dan jatuh di suatu tempat, tak lama di tempat itu akan terjadi peristiwa bunuh diri. Tapi, aku sendiri tak pernah temukan itu sebelum kematian ayah. Mitos itu berjalan hingga kini, di usiaku ke-17 masih diyakini sebagian besar masyarakat Bungkal.
Gantung diri ayah adalah pulung hidupku, begitulah keyakinan masyarakat, termasuk simbok. Tak berapa lama jadilah aku jathil yang moncer. Pulung dalam tradisi pedesaan memang sebagai simbol  keberuntungan. “Mengapa kemonceranku harus ditebus dengan kematian ayah?” Tanya batinku setiap saat. Tiap orang yang kutanya, mereka menjawab, bahwa itu memang sudah pulung sejarah. Warok aji pun pernah bilang, “Lastri, tak lama lagi kau akan jadi jathil kondang. Kematian orang tua yang gantung diri, adalah keberuntungan anak-anaknya. Pulung gantung telah diyakini turun-temurun.”
Saat itu, aku hanya menangis. Hatiku teriris. Aroma tragis seperti hawa yang kuhirup memperpanjang nyawa. “Tak adakah cara lain, Gusti?” tanyaku menalu.
Kini usiaku sudah 17, di bangku sekolah sering aku memangku beban. Beban hidup yang dituduhkan: pendulum nafsu, pembawa sial, sampai gadis binal. Bunyi gamelan reog adalah nafas hidup yang dimusim hajatan tiba aku bias bernafas lega. Ketika kemarau hajatan datang aku menjadi gadis malang yang tak punya pegangan. Teman-teman di sekolah tak pernah membaca aku dengan hati, tetapi caci.
Suatu waktu, ketika akau mewakili duta seni sekolah justru gelisah yang berbuah. Guru seniku bilang, liuk tubuh dan goyanganku bukanlah goyang terpelajar. “Liuk-goyang terpelajar itu gimana sih, Pak Guru?” protes batinku ketika itu. Tapi, aku tak berani berkata, karena guru masih menjadi dewa yang punya hak tawa dan cela. Setelah juara ada di dada guru itu pun berucap maaf tanpa kata selamat. Aku jadi duta wisata ke Korea atas sponsor pihak swasta.
Banyak guru yang tidak tahu, kalau aku banyak baca di rumah guru bahasa Indonesiaku. Mereka hanya tahu, begitu dekat aku dengan guru itu. Di rumahnya, tak kurang dari 1.000 buku, dan ratusan bendel majalah beraneka ragam. Di situlah, pengetahuanku tertempa hingga memang di festival jathil di kotaku. Bukan saja olah indah gerak tubuh tetapi wawasan dan pengetahuan seorang jathil juga ditanyakan.
Bunuh diri ayah seperti cahaya yang terus terangi laku jogetku. Ayah seperti kisah Rama dalam Mahabarata. Ayah seperti Kumbokarno mati bunuh diri dengan cara nekat berperang dengan lawan yang tak imbang. Ayahku, berperang dengan kehidupan social yang timpang oleh arogansi sejarah. Ayah adalah mitos hara-kiri dalam tradisi jepang. Bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut, mengeluarkan seluruh isi sebagai laku satria dalam penebusan dosa.
Aku tak mengenal Rama ataupun Kumbokarno. Tetapi semangat berkorban ayah barangkali  seperti mereka. Untuk penebusan laku hidup dari siku dosa yang begitu dipercaya. Yang sering terjadi, sebenarnya tradisi gantung diri sudah berlangsung lama. Dalam satu kesempatan, ayah pernah mengeluh begini: “Kehidupan itu tidak adil, Lastri!”  katanya. Saat itu aku tak mengerti kenapa ayah bilang begitu. Yang kutahu, ayah adalah lelaki putus asa karena zaman cenderung tidak berpihak. Kematian misrerius orang tuanya –40 tahun lalu- adalah muaranya. Nenek dan kakekku, yang hingga kini tak berantah. Mereka aktivis kesenian pada zamannya. Ketika zaman berubah, mereka digolongkan orang-orang terlarang. Ayah, karena itu, sebagian dari buah zaman yang terlarang itu.
Hidup pun tidak memihak ayah. Bagaimana aku –dalam keyakinan ayah—yang mewarisi indung jathil harus ditebus dengan pengorbanan ayah. Ayah pernah menjadi pegawai rendah, tetapi harus pensiun karena alasan bersih lingkungan. Disitulah awal sial ayah bermuara.
Guruku di sekolah sering bercerita tentang musibah yang melanda bangsa ini. Tahun 1965, diawali munculnya lintang kemukus  dan udan awu. Aku ingat kata simbok, sejarah itu seperti sri gunung. Kebiruan dan indah di kejauhan, penuh rona bopeng di pelukan. Tahun-tahun itu bahkan, terjadi kelaparan missal dan wabah penyakit HO mematikan.
Bungkal adalah daerah yang gersang dan miskin. Pencaharian mereka hanyalah bertani yang menggantungkan pada air hujan. Sering, langit Bungkal terasa tebal dengan hitam langit. Aku menggigit sakit, “Duh Simbok,adakah kau dengar derita anakmu yang mulai muncer ini?”
***
Senja, di jalan menikung desa tempat tinggalku berada, dekat rumah Warok Aji, aku melewati rumah kepala desa untuk pergi ke rumah guruku. “Nak, dapat surat dari simbokmu, Minten.” Sapa Bu Lurah akrab.
“Inggih, Bu, pundit?”
Mataku berbinar. Kulihat panorama di ujung pandang. Sementara, Bu Lurah yang menyapaku, hamper lenyap ditelan rumah yang megah.
“Matur nuwun, Bu. Matur nuwun.” Kataku.
Aku batalkan niat kunjungi rumah guru Pambudi. Aku pulang. Aku terusik oleh  anyaman kangen akan kabar simbok yang sudah setahun di Saudi. Di lincak depan rumah, kubuka surat simbok yang sebenarnya ditujukan untuk Warok Aji.
“Bagaimana kabar Lastri, Ki? Laris kan tanggapannya?”
Aku menghela nafas. Aku begitu kecewa saat Simbok tanyakan tentang nJathil-ku. Kenapa yang ditanyakan begitu sederhana. Aku berharap –simbok yang tidak mungkin pulang dalam waktu dekat – akan tanyakan rencana usai sekolahku, atau paling tidak terus bagaimana.
“ Ki Aji, kan baik-baik saja to? Tambah gemuk. Kalau Minten tetap kurus. Ini kan bukan Indonesia, apalagi Jawa.” Aku tersenyum membaca surat simbok yang manja. Aku ingat ayah, yang senantiasa sabar kepada simbok. Retoris simbok sebenarnya, terlalu sarkas untuk ukuran perempuan. Sebab, Warok Aji selama ini memang terkesan gendut, makmur. Dia tak pernah kerja, hanya tidur makan dan berkesenian.
“Aku Ki, tiga juta rupiah yang kukirim minggu lalu disimpan saja. Kecuali untuk kuliah Lastri. Lainnya tak usah!” tulis simbok selanjutnya. Aku tidak selesai membaca surat simbok. Bagiku, terlalu sakit kenapa simbok tidak menanyakan bagaimana kepedihanku sendiri di rumah. Kenapa juga tidak tanyakan soal selamatan Simbah Tumiran yang sudah pendak keempat puluh. Terlalu! “Bukankah Simbah begitu menyayangi simbok?”
Tampaknya aku harus mulai membenci simbok, bisik hatiku. Banyak alasan memang untuk membencinya. Pertama, aku sudah tahu, aku bukanlah anak ayahku. Aku lahir dari hubungan gelap simbok dengan Warok Aji ketika ayah mengadu nasib di Malaysia di tahun 80-an. Itu dilakukan, setelah dihentikan dari pegawai rendah. Anak pertama simbok, ketika itu, lahir terus sakit-sakitan: ke mantra dank ke dukun silih berganti. Mati. Hutang pun melilit. Naluri ayah sebagai seorang bapak mempertemukan dengan Warok Aji, sesepuh yang sering menjadi tempat mengadu masyarakat. Tapi, tak lama ayah di Malaysia terbetik kabar: Minten, simbok terlibat hubungan gelap dengan Warok Aji. Ayah pun pulang. Tapi tak mampun berbuat apa-apa. Kemudian berakhir dengan gantung diri.
Kedua, karena aku sadar: bahwa masyarakat desa pasti berpikir sumbang akan profesiku sebagai jathil. Terlebih, yang mengenalkan ndengan para sesepuh reog adalah Warok Aji. Membaca surat simbok, aku seperti membaca masa lalunya. Simbok bagiku, memang yang mewariskan garis-garis kecantikan itu. Aku sadar, betapa berat pertahankan kehormatan sebagai seorang jathil reog.
***
gayengSuatu malam. Aku diundang bergabung dengan wayang kontemporer. Cahaya bulan hinggap di antara daun dan ranting pepohonan desa. Menyaput wajah desa Bungkal. Berseri. Sayup-sayup terdengar gendhing patalon: Cucur Bawuk, Srikaton, Pareanom, Suksma Ilang, Ayak-ayakan, Slepegan, dan Sampak.
Warok Aji mendampingi aku di acara ini. Kemudian duduk-duduk di halaman balai desa sambil menugggu acara limbukan. Kepercayaan pada mitos wayang untuk masyarakat desa masih begitu kuat digenggam. Pakem dan kronologis wayang hamper semua warga hafal. Ini soalnya, banyak anak yang diberi nama yang diambil  dari dunia wayang: Bejo Bimo Sejati, Abimanyu Rateni, Seno Supit, dan Srikandi Sumiati.
Patet sanga. Gunungan berdiri tegak ditengah kelir. Penonton wayang semakin meluap. Udara Bungkal yang ramah berhembus pelan. Bulan purnama memancar kekuning-kuingan. Menyulap wajah desa jadi keemasan. Di ujung desa Bungkal tampak punggung gunung Pegat. Gunung yang membatasi desa Bungkal dengan Slahung.
Diesel padam.
“Huuu!” sahut penonton gemuruh.
***
Malam terus merangkak . Penonton beriak. Dari pancaran cahaya bulan tampak banyak mulai menyusup di antara penonton. Di pinggir jalan aneka jualan berjajar seperti  pasar malam. Di tikungan rumah penduduk ada kerumunan orang yang tak terpengaruh kematian diesel. Ya, kerumunan orang bermain dadu. Klethek.
“Door, door. Doooor ….!”
Biasanya mereka panic. Untung berceceran. Ditinggalkan begitu saja. Polisi desa dengan sigap melangkah. Tersenyum kecil sambil melihat kesana-sini. Orang-orang lalu lalang. Berhamburan.
“Ada apa? Ada apa?” begitu Tanya mereka saling bertanya dengan wajah takut. “O, kamu Kang. Lastri ikut tanggapan nggak?” begitu tiba-tiba Tanya seseorang.
Warok Aji menganggguk. “Ada apa?”
Warok Aji hanya menggeleng keras.
Diesel hidup.
Sayup-sayup, mulai terdengar erengan suara gendhing mengalun. Acara bambangan berakhir.
“Ki, anu Ki.” Kata seseorang berkalung sarung tergopoh.
Dengan tenang Warok Aji menjawab. “Ada apa?”
“Budi, Budi. Budi, Ki.”
“Baskoro?”
“Budi, adik Lastri!”
“La iya, Budi Baskoro adiknya Lastri?”
“Menggantung.”
Mendengar jawaban lelaki itu Warok Aji gugup. Sperti orang-orang bermain judi yang diburu polisi. Aku bersama Warok Aji berlari pulang. Di luar rumah penuh kerumunan orang. Sperti penonton wayng, berjubel. Lampu teplok yang menempel   di tiang rumah tak mampu membantu mengenal siapa-siapa yang ada.
“Kenapa?” Tanya Warok Aji pura-pura.
“Tadi bermain sama teman-teman kok di gardu. Tiba-tiba dia pamit pulang. Perutnya sakit. Mau ke WC katanya,” kata seseorang spontan. :”Beberapa orang kemudian berhamburan mencarimu, Ki”
Tangan Warok Aji bergetar kecil ketika dengan jemarinya dia temukan dengan jantung Budi hamper hilang. Denyut nadinya pun lemah sekali.
Warok Aji kemudian berkata, “Coba carikan ayam hitam mulus. Cepat!”
“Jangan-jangan Budi tumbal Ki Dalang?” kata seseorang seakan ingat sesuatu.
“O ya, beberapa bulan yang lalu di Demalang ketika dalang itu ndalang juga ada orang yang mati menggantung. Pada acara bambangan berakhir. Kata orang, dua tahun lalu juga pernah ketika melakonkan Ampak-Ampak Jangkar Bumi di Carat,” tambahnya.
“Masa to, Kang?”
“Ya.”
“Mungkin sajen-nya kurang komplit. Atau, tidak izin Danyang desa. Ini bisa saja, lo Ki.”
Orang-orang berkerumun semakin tak terbendung. Udara di dalam rumahku pun pengap. Panas dan sesak.
Warok Aji membelah dada ayam hitam mulus, kemudian ditempelkan pada perut Budi. Kepala ayam bergerak-gerak. Darah segar pun mengalir di anatara perut.
Budi. Beberapa orang menatap dengan pandang bertanya-tanya.
***
Cahaya bulan mulai redup. Malam bergerak pagi.
Darah tak mengalir lagi di wajah adikki. Pertunjukkan wayang berhenti. Penonton buyar. Desaku geger. “Budi, le Budi …..! suaraku tersendat. “O Allah lw, kau tega pada mbakyumu. Kau biarkan aku sendiri. Aku ikut, Le Aku ….?kepalaku pening. Pandanganku kunang-kunang.
Warok Aji tiba-tiba mendekat.
“ Sudahlah, Lastri ini kodrat. Pesti.  Yang bisa terjadi kapan pun dan kepada siapa pun. Tangan Warok Aji dikalungkan di pundakku. “Kau harus tegas, Lastri! Jer basuki mawa bea. “Tak ada kemonceran yang tanpa bebana.”
Aku tak tahu akan kata-kata Warok Aji.
Warok Aji memandangku lekat. Dengan pelan Warok Aji, kembali menyadarkanku. “Ini keinginan simbokmu, Lastri. Simbok pengin kamu k\jadi jathil kondang. Agar lentur-lenggokmu punya kekuatan ajaib. Siapa pun menontonmu akan terpaku masyuk. Ini, bebana, Lastri!”
Aku tak mengerti kata-kata Warok Aji. Diamku bersampul gemuruh langit dengan mendung tebal. “Dah Simbok, akankah ini dendammu yang sekali waktu pernah kau bisisikan di telingaku? Kau ingin orang-orang yang telah membunuh kakek dan nenek, anak turunnya masyuk dalam liuk ajaibku?”

Jathil = penari reog
Simbok = ibu
Moncer = terkenal
Indung jathil = bakat bawaan
Pulung gantung = keyakinan masyarakat bahwa gantung diri sebagai jalan kehidupan setelah ada isyarat alam dengan munculnya cahaya kebiruan yang jatuh disuatu tempat.
Hawa = udara (bahasa jawa)
Lintang kemukus = lintang bercahaya kebiruan yang jatuh mengarah ke barat laut, lintang ini diyakini sebgai isyarat buruk. Di Jepang disebut dengan komet samurai, di Amerika Serikat disebut dengan komet  Hally Bobb
Udan awu = hujan debu
Lincak = tempat duduk yang agak panjang dan lebar, terbuat dari bambu, sebagai tempat istirahat baik siang maupun di malam hari
Teplok = lampu pijar yang terbuat dari omplong atau kaca bersumbu berminyak tanah.
Jer basuku mawa bea = filsafat hidup orang jawa bahwa setiap cita-cita membutuhkan pengorbanan
Bebana = korban, penebus


1 Response to “Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) Tk. Nasional Prog. Reguler 2007, Mashudi Smada Madiun.”


  1. 1 diajeng arofah
    February 12, 2010 at 5:33 am

    aku ingin menulis cerpen yang indah,walau aku sudah menulisnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


KALENDER

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Categories

Pengunjung Budiman

  • 984,184 hits

BULE BELAJAR BHS. INDONESIA


%d bloggers like this: