05
Apr
09

Dunia Metafisik dalam Cerpen Adam Ma’rifat


Perjuangan melalui karya sastra bukan hanya untuk kemerdekaan nilai estetika tetapi juga nilai etika, baik secara tersurat maupun tersirat. Kehadiran nilai estetik dan nilai etika didalam karya sastra merupakan satu kesatuan yang kompak secara fiksional. Horace mengatakan, bahwa karya sastra haruslah dulce et utile ( indah dan berguna ). Yang dimaksud berguna bukanlah keindahannya saja yang bersifat rekreatif. Tetapi lebih jauh membimbing pembaca untuk memahami nilai-nialai yang bermanfaat dan bermartabat dalam kehidupan saat ini maupun kelak nanti. Sehingga tidaklah berlebihan apabila Budi Darma mengatakan bahwa seni, termasuk diantaranya sastra disamping filsafat dan agama, dapat menumbuhkan humanitat, jiwa yang halus, manusiawi, dan berbudaya. Begitu juga dengan karya-karya Danarto.
Bahkan dalam pengantar Adam Ma’rifat dijelaskan, bahwa sebagian besar karya Danarto merupakan upaya penyatuan dengan Tuhan. Arief Budiman pernah mengatakan bahwa karya Danarto lahir dalam suatu keadaan trance. Karya-karya Danarto bercorak mistis dan magis.
Adapun latar  belakang Danarto menulis karya-karya berdasar tasawuf, penulis asal Sragen ini mengatakan:  “… kita itu  (alam benda, alam tumbuh-tumbuhan, alam binatang, dan alam manusia) hanyalah proses, sehingga segala sesuatu tidak terpahami karena tidak terbentuk. Kebenaran dan bukan kebenaran yang mengira kita mampu menyimpulkannya ternyata itu semua tidak ada. Karena kita ini proses maka kita hanya mengalir saja, dari mana, mau kemana kita tidak mengetahui. Begitulah hakikat sebuah barang ciptaan. Yang jelas kita adalah milik Sang Pencipta, secara absolut dan ditentukan.
Akhirnya Dengan Menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha  Penyayang, penulis berniat menggali segala sesuatu yang tidak terpahami karena tidak terbentuk dalam Adam Ma’rifat, karya Danarto.

Mengapa Danarto menulis karya-karyanya bertolak dari Tasawuf? Hal ini dimaksudkan sebagai ajaran mendekatkan diri kepada Allah. Sesuatu yang tidak terpahami karena tidak berbentuk, adalah fakta keterbatasan manusia. Akal manusia tidak akan mampu menjangkau tinggi dan luasnya Keagungan Allah dengan dibantu teknologi secanggih apapun. Hanya dengan hati yang bersih, keyakinan, dan keimanan dalam diri. Perhatikan cuplikan berikut ini.
“Pagi harinya ia menemui guru sekolah dan mengatakan bahwa Jibrillah yang memecahkan genting kemarin dan menggantinya sendiri. Guru itu mengira tukang kebun itu sedang mengigau.  …….. Guru itu cuma tersenyum saja: “Bapak sedang mimpi,” katanya lirih dan yang dijawab oleh tukang kebun itu:”Ini nyata.” ………Esok harinya seluruh sekolah itu tercengang, ketika mereka itu melihat laying-layang yang ku kaitkan semalam di atap tinggi dengan benang panjang sekali. Siapa saja boleh membiarkan layang-layang itu sepanjang masa terkait di situ atau mengambilnya menjadi miliknya. Terserah.”
Secara umum Arif Budiman mengatakan bahwa karya Danarto lahir dalam suatu keadaan trance atau kesurupan. Sama halnya dengan kutipan diatas, kesurupan  juga merupakan sesuatu yang tidak terpahami. Semua itu dimaksudkan Danarto bukan sekedar untuk lelucon yang bersifat rekreatif. Tetapi sebenarnya itulah fakta keterbatasan manusia dan itulah fakta Keagungan Tuhan yang hanya bisa dijangkau oleh iman. Sesuai dengan firman Allah QS. ATTAGHABUN ayat 11, “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.” Yang dimaksud maha mengetahui atau Al aliimu ialah mengetahui segala sesuatu yang ghaib dan yang nyata. Bahkan mengetahui apa yang terlintas di hati manusia.

Setelah kita dihadapkan pada fakta keagungan Tuhan dalam cerpen Danarto “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat,” pada gilirannya kita akan kembali pada persoalan yang serupa pada karya-karya Danarto yang lain. Misalnya dalam cerpen Danarto “Adam Ma’rifat.” Perhatikan Cuplikan berikut ini.
“Akulah cahaya yang meruntun-runtun dengan kecepatan 300.000 kilometer per jam, yang membuka pagi hari hingga ia disebut pagi hari, yang menaruhkan matahari diatas kepala hingga ia disebut siang hari, kulempar ia ke barat dan kau sebut sore hari, bola yang membara menyelam dalam laut, gelombang itu tampak disepuh perak berpijar-pijar, sedang pantai seperti sapuan kwas, kelabu yang berkelok-kelok memanjang seperti tak kunjung habis dan kau bertanya lalu dimanakah aku? Dan aku menjawab: akulah cahaya yang meluncur dengan kecepatan 300.000 kilometer per detik, juga pada bagian-bagian gelap yang engkau sebut malam hari aku suka melayang-layang antara tengah malam hingga dini hari, maka kau jangan suka tidur sore-sore, supaya kau bisa melihatku memecahkan biji hingga bertunas, menumbuhkan sulur sebatang tanaman yang menjalar hingga lebih panjang lagi, kau lihat ujungnya yang menjuntai seperti ornamen itu begitu lembut gengan warna hijau pupus, juga akulah yang menetaskan telur kura-kura dipantai,……………………………..”
Cuplikan diatas menggambarkan bahwa Allah maha menguasai ( Al Waliy ) yaitu; menguasai segala urusan makhluk-Nya sejak dari urusan yang terbesar hingga urusan yang sekecil-kecilnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah QS. Ali Imron 26,27 yang artinya : “ Katakanlah wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki, ditangan Engkaulah segala kebajikan, sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam, engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (tanpa perhitungan).

Di dalam Adam Ma’rifat, Danarto juga  ingin mempertegas bahwa manusia diciptakan Allah dari tanah. Dan secara tersirat Danarto ingin menyadarkan manusia bahwa Allah Maha Pencipta. Sedangkan manusia tidak akan memahami semua itu, kecuali dengan hati atau iman. Manusia memang bisa mengatakan, bahwa dirinya diciptakan dari tanah. Tapi selebihnya tidak tahu apa-apa. Karena mengakui ketidak tahuannya sampai-sampai Danarto mengulang-ulang kata tanah sebanyak 434 kali. Perhatikan cuplikan berikut ini.
“……….maka jadilah aku yang engkau, buah ciptaan yang cakap, dari tanah,
dari tanah, dari tahah,   tanah,
tahah,   tanah,   tanah,   tanah,   tanah,   tanah,   tanah,   tanah,   tanah,   tanah…..
akulah yang tahu masalahnya ………”
Cuplikan diatas bukan sekedar permainan kata-kata untuk bumbu-bumbu estetika. Itulah Keagungan Allah, hanya Allah yang maha mengetahui. Sesuai dengan firman Allah QS. Al Mu’minuun 12 – 14, yang artinya; Dan sesunggahnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati ( berasal ) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani ( yang  disimpan ) dalam tempat yang kokoh ( rahim ). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang  ( berbentuk ) lain. Maka maha sucilah Allah, Pencipta Yang Baik Baik.

Kemudian Danarto juga ingin mempertegas bahwa, Allah itu Arroqiibu, maksudnya Dzat Yang Maha Menguasai semua gerik-gerik yang dilakukan oleh makhluk-Nya, termasuk juga apa yang diperbuat manusia. Jadi Allah itu ada dimana saja dan kapan saja. Dalam hal ini Danarto berkiblat pada QS. Qaaf  16 ;  dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. Dan pada QS. Azzukhruf 80; apakah mereka mengira, bahwa kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaika) Kami selalu mencatat di sisi mereka. Kemudian pada QS. Albaqoroh 186; dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. Untuk lebih memahami ulasan tersebut diatas marilah kita baca crita pendek karya Danarto yang berjudul Megatruh.

Didalam kumpulan cerita pendek Adam Ma’rifat, Danarto juga meyakini dan ingin meyakinkan pembaca bahwa rezeki dan umur (kematian) adalah dalam kekuasaan Allah dan manusia tidak mampu memahami semua itu bisa terjadi.  Perhatikan cuplikan berikut ini.
“….ketika aku bangun pagi ku dapati tubuhku masih ketinggalan di tempat tidurku. Kaget dan kagum disertai seluruh tubuhku gemetar luar biasa Aku pandangi tubuhku dari pojok kamar dengan mandi keringat dingin. Jantung berdenting nyaring seperti mengimbangi desauan pada dinding kembang kempis markas besar zat asam. …………… Sore hari, sehari berikutnya seluruh keluarga berdatangan : bapak, ibu, kakak kakak, dan adikku beserta keluarga-keluarganya. Mereka bertangis-tangisan memeluk tubuhku yang terbaring tenang itu. Ketika aku muncul menemui mereka, disambut kebingungan yang berlarut-larut. Dan tangis yang menjadi-jadi. Mana sesungguhnya aku, begitu mereka saling duga. Aku menjelaskan panjang lebar tetapi mereka tambah keras tangisnya. Aku bertengkar ramai dengan seluruh keluargaku……”
Cuplikan diatas mencerminkan QS.Ali Imron 27;  Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).

Begitulah cerpen-cerpen Danarto. Antara alam nyata dan mistis berbaur dalam rangkaian paragraf demi paragraf. Cerpen-cerpen Danarto sangat menarik, dan memberikan suasana religius yang sangat  mendalam, menyentuh hati, dan menggugah keyakinan. Cerpen-cerpen Danarto akan menjadi sangat menarik apabila pembaca memahami Keagaungan Allah dengan kesungguhan hati dan ketebalan iman.Ketika Danarto diwawancarai oleh penyair Abdul Hadi WM. ( Berita Buana, Agustus 1981 ), ia berkata; “Masyarakat kita menuju sekuler, itu benar dan perhatian kepada agama dan nilai-nilainya menjadi kurang. Namun perasaan relijius sastrawan muncul, sekalipun agama kurang diperhatikan. Namun harus dibedakan antara pengalaman relijius dan pengalaman mistis, yang menjadi sumber karya-karya saya.”
Secara umum karya-karya Danarto bernilai guna keagamaan yang tinggi, yang sering disebut dengan karya sastra profetik dan sufistik. Karya sastra seperti inilah yang dilahirkan dari tangan-tangan pengarang yang mencerminkan QS. Asy syu’araa’ 227, yang artinya; Kecuali orang-orang ( penyair-penyair ) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. Karena itulah Danarto dengan keyakinan dan keimanannya ingin membuka rahasia keajaiban Allah ( yang merupakan sesuatu yang tidak terpahami karena tidak terbentuk ) dalam Adam Ma’rifat.

*****


0 Responses to “Dunia Metafisik dalam Cerpen Adam Ma’rifat”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


KALENDER

April 2009
M T W T F S S
« Mar   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Categories

Pengunjung Budiman

  • 984,184 hits

BULE BELAJAR BHS. INDONESIA


%d bloggers like this: