06
Mar
14

HIDUP


( Ada sebuah keluarga yang selalu hidup dengan bergelimang harta dan tidak pernah hidup berkekurangan. Mereka memiliki 2 orang anak, yaitu Sari dan Lia )

( Di pagi hari yang cerah sebelum berangkat ke kantor Pak Egan sedang melakukan rutinitasnya yaitu membaca koran harian dengan ditemani secangkir kopi )

Ibu       : “ Pa, Mama minta uang! Hari ini ada cincin berlian edisi terbaru dan cuma diproduksi 10 buah.”

Ayah   :  “ Berapa sih yang kamu minta?  ( sambil meneruskan membaca koran dan meminum secangkir kopi panas) Yaudahlah Ma, ambil aja di brankas.”

( Ibu langsung pergi ke kamar untuk mengambil uang )

( Tak lama kemudian datanglah si bungsu, Lia )

Lia       : (menjabat tangan sang ayah) “Pa, minta uang untuk beli laptop koleksi terbaru dong.”

Ayah   : “ Ini pakai credit card Papa aja” (menyodorkan kartu kredit kepada Lia.)

Lia       : “ Makasih ya Pah, Lia sayang sama Papa” ( sambil menjabat tangan sang ayah )

Ibu       : “ Pa, Mama berangkat dulu ya!” (Mencium tangan Bapak Egan)

Sari      : ( setelah keluar dari kamar mandi ) “Mama mau kemana?”

Ibu       : “ Biasa, shopping, Nak. Kamu mau ikut?”

Sari      : “ Yaudah ayo Ma! (menarik tangan sang ibu) Oiya Pa, minta uang dong!” ( sang ayah menyodorkan uangnya)

( Sementara itu di lain tempat, di Rumah Arif. Seorang pengusaha muda yang sholeh yang tinggal bersama ibunya yang kaya raya )

Arif     : (Berdoa dan berzikir setelah sholat Dhuhur)

Lita      : “Arif, Arif, Arif! (sambil berteriak-teriak) Kamu di mana?”

Arif     : “Assalammualaikum, Ma. (sambil mencium tangan ibunya) Maaf, Ma. Arif baru selesai sholat. Ada apa?”

Lita      : “Sholat, sholat aja yang kamu kerjain! Sholat itu nggak akan nambah harta kekayaan kita!”

Arif     : “Astaghfirullahaladzim… Istighfar, Ma!”

Lita      : “Halah bullshit! Ambil jas kerjamu, kembali ke kantor sekarang! Hari ini kamu ada meeting dengan Mr.Tong Sang Cong! Inget ya Rif ini salah satu investor terbesar buat perusahaan kita”

Arif     : “Iya, Ma. Arif berangkat dulu ya, Assalammualaikum.”

Lita      : “Hem” ( Meninggalkan Arif dan pergi ke kamar )

( Ketika malam hari di rumah Pak Egan dan Bu Donna )

Ibu       :  (menonton televisi sendiri, terdengar suara Pak Egan sedang membanting pintu) “Pa, tumben selarut ini pulangnya? Muka Papa juga kelihatan lesu.”

Ayah :             “Ma…………………………”

Ibu       : “Ada apa Pa ? Oya Pa, coba lihat cincin yang baru mama beli tadi ( sambil menunjukkan cincin tersebut)”

Ayah   : “ Papa mau ngomong hal penting Ma”

Ibu       : “ Coba dilihat deh Pah. Duh bagus banget. Lihat deh Pah, bersinar kan, hih mama suka banget deh”

Ayah   : (sambil menggebrak meja ) “Mah kamu bisa gak sih dengerin aku ngomoong. Kamu itu istriku tapi bisamu Cuma pamer belanjaan aja. Bisa nggak sih sekali-kali dengerin suamimu ini”

Ibu       : “Pah kamu kenapa ? Kamu gak pernah sekasar ini.”

Ayah   : ( memegang bahu istrinya ) “Mah dengerin papa ya. Saat ini kita sudah jatuh miskin. Kita udah kere udah kayak gembel-gembel diluar sana. Kerja sama Papa dengan investor utama kita gagal, Papa rugi bertriliun, perusahaan bangkrut, hutang kita menumpuk untuk melunasi itu semua, seluruh harta kekayaan kita besok akan disita oleh bank, termasuk rumah ini”

Ibu       : “Apa?! Tidak mungkin! Uang kita masih banyak kan, Pa?”

Ayah   : “Tidak, uang kita sudah habis!”

Ibu       : “Tidak mungkin!” (sambil membanting pigura foto keluarga.)

( Sementara itu Sari dan Lia terbangun mendengar keributan di ruang keluarga )

Sari      : “ Kenapa sih, Ma, Pa? Malam-malam begini kok ribut?”

Lia       : “ Ndak tau tuh Kak. Oh ya Ma, Pa besok aku dan Kak Sari minta uang ya. Untuk membeli mobil ini” (menunjukkan majalah yang berisi mobil sport edisi terbaru)

Ayah   : “ Anak-anakku maafkan papa, papa sudah tidak bisa menuruti keinginan kalian”

Lia       : “ Kenapa Pah ? Papa udah nggak sayang sama kita ya ?”

Ayah   : “ Bukan begitu Nak. Kalian tau nggak? Kita itu bangkrut! Kita udah jatuh miskin!”

Sari dan Lia :   “Apa? Jatuh miskin?Nggak mungkin !” (menangis bersama-sama)

Lia       : “Tapi kan Papah pernah bilang kalau harta kekayaan kita nggak akan habis 7 turunan. Aku nggak mau miskin Pah, aku nggak mau jadi gembel. Papa bohong kan, ini semua cuma sandiwara kan Pah”

Ibu       : “ Tidak Sayang. Apa yang dibilang Papamu benar, maafkan kami ya Nak”

( Akhirnya pada malam itu Keluarga Pak Egan bersiap-siap untuk membereskan semua pakaian mereka. Karena keesokan harinya rumah yang mereka tinggali harus dikosongkann)

( Keesokan harinya, seluruh keluarga Pak Egan berada di depan pagar yang telah disita oleh bank sambil menangis meratapi nasib mereka )

Ibu       : “Trus kita mau hidup dimana dong, Pa?”

Lia       : “ Di kolong jembatan atau di depan ruko orang pah ?”

Sari      : “ Pah aku gak mau, aku gak mau kita sehina itu. Nanti kalau temen-temenku tau aku sudah jatuh miskin, mereka pasti tidak mau berteman lagi denganku”

Lia       : “ Kalau pacarku tau, aku jatuh miskin bisa-bisa aku diputusin Pah”

Ayah   : “ Papa nggak akan lari dari tanggung  jawab sebagai kepala rumah tangga.                           Kali ini papa sudah siapin rumah kontrakan kecil. Yuk kita kesana.”                                    ( sambil mengajak seluruh keluarganya pergi )

( Sesampai dirumah kontrakan kecil yang sederhana yangmana berbanding terbalik dengan rumah mereka terdahulu )

 

 

Lia       : “ Pah ini jelek banget, kayak gubuk ”

Ibu       : “ Sudahlah apapun keadaannya harus kita syukuri Nak, ini juga berat buat Mama. Kasihan papamu Nak” ( sambil menenangkan Pak Egan )

( Sejak saat itu, sehari-hari mereka menjalankan aktivitas di rumah kecil dan sempit. Ibu Donna membuka usaha kecil-kecilan untuk tetap mempertahankan hidup mereka. Sari dan Lia membantu Ibu Donna mencari uang dengan menjual gorengan. Namun, Bapak Egan yang belum bisa menerima kenyataan, lama-lama mengalami tekanan batin, dan akhirnya mengalami depresi yang luar biasa. Sehingga terpaksa dia harus dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa )

( Sementara itu di siang hari yang panas di daerah perkampungan kumuh)

Sari dan Lia : “Gorengan! Gorengan! Siapa mau gorengan! Masih hangat lho!                                             Pak gorengan, Pak. Bu gorengan, Bu! Dijamin enak rasanya”

Lia       : (Mengeluh kepada Sari) “Aduh Kak! Panas nih. Mana nggak ada yang mau beli gorengan kita lagi. Capek tau nggak sih!”

Sari      : “ Ish udah sabar aja. Kita harus tetep jualan gorengan biar dapet uang! Kamu kira kakak nggak capek hidup susah kayak gini terus. Udah miskin ribet lagi”

Lia       : “ Coba kalau kita masih jadi orang kaya Kak, kita bisa spa kan, jadi kulitku nggak segosong ini”

Sari      : “ Udahlah dek, dibanding kamu banyak omong. Kamu makan aja gorengan ini”

( Di tempat yang sama Arif dan Ibunya melakukan survei untuk proyek perusahaan mereka )

Lita      : “ Kenapa sih kita harus survei ke tempat kumuh kayak gini, kamu tau kan mama nggak biasa ditempat kayak gini. Kelamaan disini mama bisa ketularan penyakit kusta”

Arif     : ( hanya tersenyum ) “ Sabar ya mah habis ini kita pulang kok”

( Tak lama kemudian, tanpa sengaja, Arif melihat sosok penjual gorengan yang sudah tidak asing dihadapannya. Dialah Sari cinta masa lalunya yang tidak tersampaikan. Melihat wajah Sari yang cantik nan jelita sama seperti yang dulu , Arif kembali jatuh hati kepada Sari yang sebenarnya teman SMA Arif  )

Arif     : “ Sar….. Sari…………….. Sari…………….. Tunggu” ( mengejar Sari )

Lita      : “ Arif kamu mau kemana ? Tungguin mama dong ”

Sari      : ( mendengar ada yang memanggil lalu Sari menengok kebelakang)

Arif     : (Menghampiri Sari dan Lia) “Lho, Sari? Ngapain kamu disini?”

Sari      : “Eh… em… lho? Arif? Aku nggak lagi ngapa-ngapain kok”

Lita      : “ Loh Sari ? Kamu Sari anaknya Pak Egan itu kan yang Pengusaha Batu Bara”

Sari      : “ Iya tante ( sambil tersenyum )

Lita      : “ Loh ngapain kamu disini ? Ini juga apa ini ? Gorengan ? Kamu jualan gorengan ? memang uang yang dikasih papamu kurang ya sampai harus jualan kayak gini ?”

Lia       : “ Iya itu dulu tante, sekarang kita sudah bangkrut dan kita jatuh miskin”

Sari      : “ hust adek “ ( sambil menyenggol tangan Lia untuk memberi kode agar diam)

Lita      : “ Duh jadi gembel ya sekarang.”

Arif     : “ Mah cukup hentikan. Sar kamu belom menjawab pertanyaanku. Kamu ngapain disini ? Sudahlah kamu jangan bohongi aku”

Sari      : “ I…Ini jualan gorengan. Mau beli? Hehe” ( sambil tersenyum )

Arif     : “ Semuanya aku beli deh. Asalkan kamu ceritakan kenapa kamu berjualan gorengan seperti ini. Dan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi ? ”

Lita      : “ Arif kamu ini jangan sok baik deh sama orang miskin kayak gini. Bisa-bisa kita ketularan miskin. Ya jelas lah dia disini jualan gorengan untuk menyambung hidupnya lah wong dia sudah kere”

Sari      : “ Iya Rif, perusahaan  Papa bangkrut. Semua harta kekayaan kami disita sama Bank. Yaudah deh kami jatuh miskin. Di tambah papa yang belom bisa menghadapi musibah ini akhirnya stress dan kini Papa gila, Rif. Iya benar kata mamamu aku berjualan gorengan biar bisa tetap dapat uang. Iya untuk menyambung hidup ini”

Lita      : “ Ya Ampun sudah kere, jelek ditambah papanya gila lagi. Rif mama gak mau kamu dekat-dekat sama cewek ini !”

Arif     : “ Sar boleh aku main ke rumahmu yang sekarang ? Aku mohon aku ingin melihat kondisi keluargamu”

Lia       : “ Boleh kok Kak Arif ayo Kak ! Rumah kita nggak jauh kok darisini”

Lita      : “ Arif apa-apaan kamu, tega ya kamu masukin mama ke rumah gembel” ( tanpa banyak pilihan akhirnya Ibu Lita pun ikut Arif ke rumah Sari dan Lia )

( Setibanya di Rumah Lia dan Sari. Ibu Donna didepan sedang mempersiapkan beras untuk dimasak dan Pak Egan yang kini sudah mengalami gangguan Jiwa hanya duduk diteras )

Lia       : “ Ini Kak rumah kita sekarang. Maaf ya kalau jelek”

( Tiba-tiba Pak Egan mendekati Ibu Lita sambil tertawa-tertawa sendiri )

Lita      : “ Hei apa-apaan ini Rif. Kamu ngajak mama ke Rumah Sakit Jiwa kayak gini. Hih pergi kamu ( sambil mengusir Pak Egan )

Ibu       : “ Ayo Pah kita masuk. Jangan ganggu mereka Pah. Maaf ya Bu Lita. Oya silahkan masuk Bu !”

( Kemudian Sari, Arif, Ibu Donna dan Ibu Lita masuk ke dalam ruang tamu sederhana tersebut. Lalu keluarlah Lia membawa segelas air putih untu Arif dan Ibu Lita )

Arif     : “ Sari aku mau ngomong sama kamu ”

Sari      : “ Iya Rif apa ? ”

Arif     : “ Kamu tahu nggak sih? Dulu kamu itu sempurna di mataku. Dan aku jatuh hati padamu. Sekarang, aku sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Namun entah kenapa aku semakin menyayangimu. Menikahlah denganku, dan bawa semua keluargamu ke rumahku.”

Sari      : “ A…apa? Apa barusan kamu bilang? Aku kan sudah miskin. Masa pengusaha kaya sepertimu mau menikahiku? Nggak malu sama teman-temanmu? Lagian aku ingat dulu aku menolakmu secara mentah-mentah”

Arif     : “ Sari, aku mau menerima kamu apa adanya. Menikahlah denganku. Bahagialah bersamaku. Temanilah aku disisa waktu hidupku. Aku tidak bisa berjanji untuk terus membawamu dalam kehidupan yang mewah seperti kehidupanmu dulu tapi aku berjanji akan menjadi suami yang terbaik untukmu”

Lita      : “ Arif apa-apaan kamu ! Menikah ? Dengan gadis miskin ini ? Arif berkacalah masih banyak wanita yang jauh lebih baik darinya. Apalagi ayahnya gila ? kamu yakin akan kamu bawa ke rumah kita ? Kamu kira rumah kita tempat penampungan gembel apa ? Mama nggak setuju kamu sama dia”

Arif     : “ Mah tolong Arif sudah dewasa dan ini jalan hidup Arif.

Lita      : “ Di dunia ini masih banyak perempuan Rif nggak cuma dia saja”

Arif     : ( karena tidak tahan Ibunya mengejek Lita akhirnya Arif mengajak Ibunya pulang) Lebih baik kita pulang sekarang. Tante, Sari, Lia kami pamit pulang dulu. Sampaikan salamku untuk Om Egan ya. Assalamualaikum” ( Sambil menarik tangan ibunya keluar )

(Setelah berusaha membujuk Ibunya akhirnya Arif mendapat restu dari Ibunya. Kemudian dia kembali ke rumah Sari dan meminangnya. Pada akhirnya, Sari menerima pinangan Arif. Mereka berdua menikah dengan persetujuan Ibu Donna. Pernikahan mereka digelar secara sederhana hanya mengundang teman dan sanak saudara. Lalu mereka semua ( keluarga Sari ) tinggal di rumah Arif. Namun, Ibu Lita tidak suka dengan kedatangan mereka. Ia berusaha membuat Ibu Donna celaka. Pada suatu pagi, Ibu Donna sedang menonton televisi. Sementara Ibu Lita sedang membawa air raksa. Tiba-tiba Ibu Lita tersandung dan terjatuh. Air raksa tersebut mengenai kedua mata Ibu Donna.)

Ibu       : “ Aduh! Mataku! Aduh! Sakit sekali! (sambil berteriak-teriak)

Lita      : “ Aduh, maaf tidak sengaja. Kakiku tersandung tadi” (berpura-pura tidak sengaja)

Lia       : “ Ada apa, Ma? Kenapa Mama bisa seperti ini? Tante apa yang tante lakukan ke mama saya”

Lita      : “ Saya nggak apa-apain Ibumu dia aja yang salah”

Sari      : ( mendengar keributan Lia keluar dari kamar )“ Lia ada apa dengan mama, kenapa mata mama? Sebaiknya kita langsung bawa ke Rumah Sakit”

(Akhirnya, Ibu Donna dibawa ke rumah sakit. Sesampainya di Rumah Sakit Ibu Donna diperiksa dan menurut hasil lab kornea Ibu Donna mengalami kerusakan hingga akhirnya Ibu Donna Buta. Kemudian Sari mengabari Arif tentang kecelakaan tersebut)

( Sementara itu di Rumah, terjadilah pertengkaran hebat antara Arif dan Ibunya)

Arif     : “ ( marah-marah kepada Ibunya) Mama kenapa sih ? Apa yang mama lakuin ke Ibunya Sari. Dia itu ibuku Mah. Mama mau membunuhnya ? Arif tidak menyangka mama sepicik ini. Mama tega Mah”

Lita      :  “ ( melotot sambil menunjuk ke Arif ) Arif sekarang kamu berani ya membentak mama ? Gara-gara gadis gembel dan keluarganya itu kamu jadi durhaka ke mama. Kalau kamu lebih memilih gadis gembel dan keluarganya itu silahkan pergi dari rumah ini’

Arif     :  “ Baik Arif akan meninggalkan rumah ini. Arif akan membawa seluruh keluarga Arif pergi dari rumah ini” ( kemudian Arif membereskan semua barang-barangnya dan pergi meninggalkan rumah Ibu Lita )

( Tidak lama setelah kepergian Arif datang sekelompok polisi ke Rumah Ibu Lita untuk menangkap Ibu Lita atas tuduhan mencelakakan orang lain, Ibu Lita dipenjarakan selama 10 tahun penjara. Pada akhirnya, Arif bersama keluarga barunya yaitu Sari, Lia, dan Ibu Donna yang buta tinggal dirumah sederhana yang dibeli Arif dengan uangnya sendiri tanpa melibatkan harta milik ibunya dulu. Kini hidup mereka bahagia dan tenang tidak ada lagi Ibu Lita yang menyimpan dendam kepada mereka )

 SELESAI

Pemeran : XI IPA 1

  1. Donna F.         (11)      Sebagai Ibu Donna     (Istri Bapak Egan)
  2. Egan A.           (15)      Sebagai Bapak Egan
  3. Ghafur R.A.    (20)      Sebagai Arif                 ( Anak Ibu Lita)
  4. Friska M.         (25)      Sebagai Manda           ( Anak Bapak Egan)
  5. Nadya M.        (27)      Sebagai Ibu Lita           ( Ibu Arif )
  6. Amelia P.S.     (30)      Sebagai Lia                  (anak Bapak Egan)

0 Responses to “HIDUP”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


KALENDER

March 2014
M T W T F S S
« Jul   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

Pengunjung Budiman

  • 984,184 hits

BULE BELAJAR BHS. INDONESIA


%d bloggers like this: